Batu Bara, CCTV 24JAM.COM
Pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) kerap kali diidentikkan dengan deru mesin pengerjaan proyek dan kucuran peluh prajurit dalam membangun infrastruktur. Namun, di balik rutinitas padat tersebut, potret humanis yang menghangatkan hati justru terekam di Desa Kapal Merah, Kecamatan Nibung Hangus, Kabupaten Batu Bara.
Di sela-sela mengejar target fisik TMMD Ke-129 Tahun Anggaran 2026, personel Satgas Kodim 0208/Asahan menyempatkan diri melebur bersama warga. Bukan dengan mengangkat cangkul, melainkan lewat interaksi hangat dan canda tawa bersama anak-anak desa setempat.

Suasana di desa pesisir itu seketika dipenuhi keceriaan. Canggung dan jarak seolah luntur ketika para prajurit berseragam loreng ini turun langsung menginisiasi berbagai permainan. Mereka tidak hanya hadir sebagai pelaksana pembangunan, tetapi juga bertransformasi menjadi sosok kakak, teman bermain, sekaligus pendorong motivasi bagi generasi muda di pelosok negeri.
Membangun Kepercayaan Lewat Pendekatan Emosional
Bagi anak-anak Desa Kapal Merah, kehadiran aparat bersenjata yang biasanya berkesan kaku atau menakutkan, kini berubah menjadi figur yang dirindukan. Mereka tampak sangat antusias mengikuti permainan dan leluasa berinteraksi dengan para prajurit yang saban hari bergotong-royong merenovasi kampung mereka.
Momen sederhana ini pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari filosofi kemanunggalan TNI dengan rakyat. Keterikatan emosional yang dibangun sejak dini ini diyakini mampu menumbuhkan rasa aman, memperkuat semangat kebersamaan, dan memberikan teladan positif bagi anak-anak yang kelak akan meneruskan tongkat estafet bangsa.
”Pembangunan fisik memang penting untuk membuka isolasi dan memajukan desa, namun membangun mental dan kedekatan emosional dengan masyarakat, khususnya anak-anak, adalah investasi sosial yang tak kalah berharganya.”

Sebagai catatan, Satgas TMMD Ke-129 di Desa Kapal Merah saat ini tengah mengebut sejumlah sasaran fisik berskala besar. Proyek tersebut meliputi pembangunan turap, rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), perbaikan fasilitas ibadah, hingga penyediaan sarana air bersih yang sangat vital bagi warga.
Kendati fokus pada pembangunan infrastruktur tersebut, kegiatan nonfisik melalui sentuhan kekeluargaan dan pendekatan sosial kemasyarakatan terus digalakkan. Keseimbangan inilah yang diharapkan dapat mewujudkan pembangunan desa yang benar-benar berkelanjutan, baik secara fisik maupun ikatan persaudaraan.
(Boys-3)
