BATU BARA,CCTV24jam.com — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara, Senin (15/06/2026), tidak menyurutkan langkah puluhan massa yang terdiri dari jurnalis, mahasiswa, aktivis, dan elemen masyarakat sipil untuk tetap menggelar aksi unjuk rasa di depan Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku, Jalan Kuala Teuku Umar, Pahang.
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk kontrol sosial masyarakat terhadap jalannya tata kelola lembaga pemasyarakatan, sekaligus mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pelayanan publik di lingkungan pemasyarakatan.
Dalam orasinya, koordinator aksi menegaskan bahwa gerakan tersebut bukan bertujuan menyerang institusi, melainkan mendorong pembenahan sistem demi menjaga integritas lembaga negara.
“Kami hadir bukan untuk memusuhi lembaga, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak untuk memastikan seluruh sistem berjalan sesuai aturan hukum, prinsip keadilan, dan nilai transparansi publik,”tegas koordinator aksi di hadapan peserta unjuk rasa.
Dalam aksi itu, massa membawa Mosi Tidak Percaya yang berisi delapan poin tuntutan, dengan salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah meninggalnya seorang warga binaan yang dinilai masih menyisakan berbagai pertanyaan dan membutuhkan penjelasan terbuka kepada masyarakat.
Massa meminta agar seluruh proses penanganan dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai mekanisme hukum yang berlaku agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Selain itu, peserta aksi turut menyoroti sejumlah dugaan yang berkembang di ruang publik, mulai dari dugaan adanya peredaran narkotika di lingkungan lapas, dugaan praktik jual beli kamar hunian, hingga dugaan penggunaan telepon genggam oleh warga binaan.
Menurut massa, berbagai dugaan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan independen, objektif, serta dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Massa menilai apabila dugaan-dugaan tersebut nantinya terbukti, maka kondisi tersebut berpotensi mencederai fungsi utama lembaga pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan dan rehabilitasi, sekaligus memicu menurunnya kepercayaan publik terhadap sistem pengawasan internal.
Sorotan tajam juga diarahkan pada aspek keamanan lembaga menyusul insiden kaburnya narapidana yang sebelumnya sempat menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan serius terkait efektivitas sistem pengamanan internal.
Atas berbagai persoalan yang disampaikan, massa mendesak Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sumatera Utara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola serta kepemimpinan di Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku.
“Substansi utama dari delapan tuntutan ini adalah evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan. Jika nantinya ditemukan adanya kelalaian ataupun penyimpangan berdasarkan pemeriksaan resmi, maka tindakan tegas harus diambil demi memulihkan kepercayaan masyarakat,” seru orator aksi.
Meski berlangsung di tengah cuaca kurang bersahabat, aksi unjuk rasa berjalan tertib dengan pengawalan aparat keamanan.
Massa menegaskan akan terus mengawal perkembangan persoalan yang disuarakan hingga terdapat respons resmi dari pihak terkait.
Hingga aksi berakhir, massa masih menunggu tanggapan resmi dari pihak Lapas Kelas IIA Labuhan Ruku maupun instansi pemasyarakatan yang berwenang atas seluruh tuntutan yang telah disampaikan.
(Tim Res-)
